0
Thumbs Up
Thumbs Down

Ini Kerugian Kendaraan Bermotor yang Pakai Octane Booster Secara Rutin

carmudi
carmudi - Wed, 03 Jul 2019 10:23
Dilihat: 98
Bensin oktan tinggi bisa jadi pengganti campuran Octane Booster

Jakarta - Tingginya harga bahan bakar non subsidi mendorong sebagian orang mensiasatinya dengan berbagai cara. Salah satu cara yang lazim dilakukan pemilik kendaraan bermotor untuk menaikkan kualitas bahan bakarnya yaitu dengan memakai octane booster. Memang, zat aditif ini memperbaiki pembakaran, namun banyak juga efek samping yang ditimbulkannya.

Para ahli migas pun tidak menyarankan kepada pemilik kendaraan untuk memakai octane booster secara rutin. Bukannya jadi hemat, bisa jadi pemakaian aditif ini malah menambah pengeluaran Carmudian untuk perawatan ekstra akibat pemakaian dopping bahan bakar tersebut.

Sebelum kita membahas kerugian memakai peningkat oktan, terdapat beberapa khasiat aditif tersebut menurut produsennya. Peningkat oktan diklaim menghilangkan gejala ngelitik, terhentak-hentak, mengembalikan tenaga yang hilang. Selain menambah angka oktan, cairan ini juga disebut membersihkan ruang bakar.

Itu semua memang fungsi dasar dari bahan bakar dengan oktan tinggi. Namun, tentunya penambah oktan tidak bisa benar-benar menggantikan bahan bakar non subsidi. Zat aditif yang jamak digunakan pemilik kendaraan bermotor adalah yang berjenis octane enhancer non-oxygenated. Zat ini sendiri dibuat dengan bahan dasar campuran dari unsur timbal, besi, dan mangan.

"Oktan booster bisa langsung berpengaruh terhadap peningkatan pembakaran. Tapi belum tentu mengurangi friksi dalam ruang bakar dan silider," ungkap Dr. Andreas Shaefer, Global Analyst Shell beberapa waktu lalu.

Octane booster terbukti mampu meningkatkan performa secara instan. Tapi lambat laun, kandungan logam didalamnya mampu merusak sistem pembakaran itu sendiri. Akibatnya, pembakaran malah jadi tidak bekerja optimal bila memakai bahan bakar biasa tanpa aditif.

Alasannya, aditif ini bisa menimbulkan jelaga di ruang bakar. Kotoran tadi tidak bisa diatasi oleh zat pembersih dalam bahan bakar non subsidi atau oktan tinggi. Produsen cairan peningkat oktan pun tidak menyarankan produknya dipakai secara rutin setiap hari.

Perbandingan Octane Booster dengan Bahan Bakar Non SubsidiSPBU Total hanya menyediakan bahan bakar non subsidi

Sebagaimana kita ketahui, bahan bakar non subsidi biasanya memiliki oktan yang tinggi, dengan nilai RON 90 ke atas. Octane Booster berfungsi meningkatkan nilai RON bensin bersubsidi dengan nilai 88 agar menjadi setidaknya 90 atau 92.

Perusahaan migas dalam melakukan riset bahan bakar tidak hanya memikirkan nilai RON. Mereka juga menambah beberapa aditif alami yang bisa merawat mesin hingga jalur bahan bakar kendaraan. Shaefer dalam penuturannya kepada media di Indonesia mengungkapkan bila bahan bakar dari Shell juga harus mengurangi friksi dan memiliki kandungan pembersih.

"Kami selalu berusaha menciptakan bahan bakar dengan memperhatikan tiga aspek. Bahan bakar kami bisa membersihkan sistem intake, lalu meningkatkan kualitas pembakaran, dan mengurangi friksi yang tidak dimiliki oleh Octane Booster," jelasnya.

Pada tahun 2013 lalu Dirjen Migas telah menyebutkan beberapa jenis aditif yang berdampak buruk kepada mesin. Kandungan dalam dopping bahan bakar ini juga berdampak buruk bagi kesehatan manusia dan lingkungan alam.

Untuk itu, Carmudian sebaiknya hindari penggunaan Octan Booster Non-Oxygenated dan aditif yang berbahan dasar logam (organometallic) atau berbasis logam misalnya MMT (metilsiklopentadienil manganese tricarbonil) dan Ferrocene (disiklopentadienil iron).

Terlebih dalam sistem saluran bahan bakar injeksi, octane booster dengan bentuk tablet ini ketika berubah menjadi serbuk bisa menyebabkan mampet di filter bahan bakar. Ketimbang harus melakukan perbaikan saluran bahan bakar, sebaiknya Carmudian memakai cara 'oplosan' bahan bakar saja.

Untuk mendapat nilai RON 92 misalnya, bisa mencampur bahan bakar oktan 88 dengan bahan bakar oktan 98 dengan perbandingan 1:1. Nantinya, hasil campuran kedua bahan bakar tadi menghasilkan RON 93. Perhitungan harga pun bakal jadi lebih murah ketimbang bahan bakar RON 92 di pasaran.

Dari segi harga, Premium dijual Rp 7.000 dan Pertamax Turbo dijual Rp 11.200, maka perhitungan harga 'oplosan' tadi yaitu (7.000 + 11.200) : 2 = 9.100. Tentu, angka ini sedikit lebih murah dari harga Pertamax yang dijual Rp 9.850 oleh Pertamina.

Sumber: carmudi
Cari Bengkel Mobil
PARTNER KAMI
carmudi
Cintamobil
Mobil WOW
Mobil123
Mobilmo
MotorExpertz
OTORAI
Otospirit
RajaMobil